Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Ditemukan peradaban kuno di Meksiko, punya 40 ribu gedung layaknya New York!

Ditemukan peradaban kuno di Meksiko, punya 40 ribu gedung layaknya New York!

Berbekal teknologi laser LiDAR, para ilmuwan masuk ke kota kerajaan bernama Purepecha di Mexico, dan ditemukan lahan bekas perkotaan seluas 26 kilometer persegi.


Melansir Engadget, arkeolog dari Colorado State University, Chris Fisher, menyebut bahwa kota tersebut adalah peradaban yang memiliki 1.500 bangunan per kilometer persegi tanah. Jika dihitung, kita bisa mendapat sekitar 40.000 pondasi bangunan di atas sana. Ini adalah jumlah bangunan yang sama dengan pulau Manhattan New York City. Kota ini dipenuhi oleh populasi masyarakat Purepecha yang ada bersamaan dengan suku Aztec.

Hal ini ditemukan berkat teknologi LiDAR yang punya kekuatan meneropong di balik lava yang menutupinya. Berkat teknologi ini, ilmuwan juga menemukan bahwa kota ini memiliki tata letak yang tak biasa dengan struktur besar layaknya piramida dan plaza terbuka yang berada di tepian kotanya.

Penggunakan LiDAR sendiri yang berbasis cahaya, semakin umum dalam arkeologi. Pasalnya, peneliti bisa memidai area tanah yang sangat luas ahnya dalam hitungan menit. LiDAR juga bisa menciptakan peta 3D dari lansekap tersebut dengan memancarkan laser ke tanah dari pesawat. Laser ini bisa menembus daun dan tanah, dan memungkinkan para ilmuwan bisa melihat kondisinya tanpa menebang pohon.

Radiasi Smartphone Ternyata Tak Bahayakan Otak


Berdasarkan dua buah studi yang dilakukan oleh National Toxicology Program atau NTP, telah menyimpulkan sebuah hal yang sudah lama jadi momok para pengguna smartphone. Disebut NTP, radiasi smartphone tak berbahaya.


Berdasarkan penelitian NTP yang dikutip Phone Arena, seekor tikus yang terapapr radiasi frekuensi radio atau RFR, ternyata tidak terpengaruh apapun. Kesehatan tikus yang terpapar RFR sama dengan yang tidak terpapar.

Dr. Bucher, salah satu ilmuwan yang menghelat penelitian ini, tetap menganjurkan untuk para pengguna smartphone untuk membuat penggunaan smartphone sejauh mungkin dari kepala. Pasalnya, sang dokter menyebut bahwa hal ini "mengurangi paparan radiasi perangkat secara dramatis, karena radiasi berkurang jika jarak makin jauh." Perangkat juga akan lebih baik jika dijauhkan dari tempat tidur.

Selain itu, National Cancer Institute juga menyebut bahwa tidak ada bukti konsisten bahwa radiasi smartphone dapat meningkatkan risiko kanker.

Bahkan, kalau di Amerika Serikat, penggunaan smartphone diawasi oleh FDA, yang merupakan semacam BPOM AS. Disebut oleh FDA, semua smartphone di AS "dapat diterima untuk melindungi kesehatan masyarakat."

Rumor soal radiasi smartphone bisa sebabkan mandul
Salah satu terobosan baru dalam dunia fashion khususnya pakaian dalam, adalah celana dalam pria yang bisa melindungi alat vital pria dari radiasi smartphone. Namun permasalahannya adalah, butuhkah alat vital pria dilindungi agar tetap subur?

Hal ini bermula dari asumsi bahwa gelombang radio yang dipancarkan smartphone bisa membawa efek berbahaya, yakni menurunkan jumlah sperma dan menurunkan kesuburan. Namun ini cuma rumor.

Hal ini dikarenakan sebenarnya masyarakat sepertinya salah tangkap akan bagaimana perbedaan-ciri-ciri gelombang elektromagnetik. Gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik, begitu juga sinar X.

Meskipun sama-sama gelombang elektromagnetik, sinar X lebih berbahaya karena panjang gelombangnya yang rendah, bisa merusak sel bahkan jaringan. Panjang gelombangnya yang hanya satu per satu juta dari lebar rambut manusia, bisa sangat kuat dan bahaya bagi sel.

Namun, gelombang radio adalah kebalikannya. Panjang gelombang dari gelombang radio yang sepanjang lapangan sepakbola, hanya membawa energi yang kecil. Energi ini terlalu kecil untuk bahkan merusak sel. 

Fenomena Soal Hari Tanpa Bayangan

Besok, hari Rabu (21/3), akan ada fenomena alam langka yang terjadi di Indonesia. Fenomena ini disebut Hari Tanpa Bayangan, di mana matahari akan ada di atas garis khatulistiwa.


Akibatnya, Indonesia pada siang hari tidak akan memiliki bayangan sama sekali. Tidak cuma itu, matahari tentu akan terasa lebih terik dari biasanya.

Apa saja deretan fakta soal hari tanpa bayangan ini? Mari kita simak beberapa di antaranya.

1. Tidak akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia

Perlu dicatat bahwa tidak semua wilayah Indonesia akan dihampiri oleh fenomena hari tanpa bayangan besok. Pasalnya memang hanya beberapa tempat yang dilewati garis khatulistiwa.

"Peristiwa ini disebut hari nirbayangan atau Hari Tanpa Bayangan. Kejadiannya bisa dua kali setahun. Kalau tahun ini 21 Maret dan 23 September 2018," ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jasyanto seperti yang dikutip Merdeka.com dari Liputan6.com.

2. Sebab terjadinya hari tanpa bayangan

Jasyanto menjelaskan, peristiwa tersebut bisa terjadi lantaran Bumi mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dalam periode 365 hari. Garis edar Bumi yang berbentuk lonjong, membuatnya bergerak lebih cepat dan kadang bisa bergerak lebih lambat.

Sementara, bidang edar dari Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidangnya miring 23,4 derajat ke bidang ekuator.

Dengan demikian, Matahari akan tampak di atas belahan Bumi selatan selama sekitar setengah tahun, dan akan berada di atas belahan Bumi selatan dalam setengah tahun sisanya.

"Perubahan posisi tampak Matahari ini menyebabkan perubahan musim, misalnya empat musim di wilayah subtropis dan musim kering-basah di Indonesia," paparnya.

3. Durasi siang dan malam akan sama

Ketika hari tanpa bayangan ini terjadi, ternyata antara siang dan malam mempunyai durasi yang sama. Nama ilmiah dari fenomena ini adalah Vernal Equinox, yang berasal dari kata vernus yang artinya musim semi, serta equus yang artiya sama, dan noct yang artinya malam.

Wilayah ekuator Indonesia misalnya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Matahari nanti akan berada di atas kepala pada siang hari, sehingga tugu tegak akan jelas terlihat tanpa bayangan.

Matahari sendiri sudah akan berada di atas ekuator pada nanti malam, yakni pukul 23.15. Lalu pada 21 Maret 2018, Matahari akan mencapai titik puncak pada pukul 11.50 WIB. Titik tersebut diberi nama titik kulminasi.

4. Tak cuma terjadi di Pontianak

Karena fenomena ini terjadi di garis ekuator, tentu Pontianak akan jadi salah satu kota yang mendapati fenomena hari tanpa bayangan. Namun masih banyak kota lain yang dilewati garis khatulistiwa. Mulai dari Bonjol di Sumatera Barat, Kepulauan Batu di Nias Selatan Sumatera Utara, kepulauan Kayoa di Halmahera Selatan Maluku Utara, Pulau Waigeo di Raja Ampat Papua Barat, dan masih banyak lagi daerah yang tidak berupa kota yang dekat dengan pemukiman.

Selain itu menurut LAPAN, kota-kota yang lokasinya ada di antara 23,4 Lintang Selatan dan 23,4 Lintang Utara, kemungkinan akan mengalami peristiwa serupa.

Memperingati hari tersebut, LAPAN akan menghelat Festival Hari Nir Bayangan di Pontianak pada 21 Maret besok. Festival yang akan berlangsung hingga 23 Maret 2017ini akan berisi pergelaran planetarium mini, pameran, serta kuliah singkat.